Cita-cita kecil Ocha
Layar tabletku menyala terang dari settingan screen flash tiktok. Negoro angin yang dinyanyikan Niken melatarbelakangi video tiktokku.
Entah kenapa, pikiranku kembali ke masa 17 tahun silam. "Cha, kalau kamu udah besar, kamu cita-cita nya jadi apa?" tanya tanteku ketika aku sibuk menyelesaikan tugas matematika itu.
"hhmm.. aku mau pekerjaan yang duitnya banyak, model, designer baju, atau penyanyi."
ucapku polos.
belum terbenak dalam pikiranku, bahwa aku benar-benar ngga bisa melakukan itu semua,
karena nyatanya aku memilih untuk fokus mendalami pengetahuan agama.
Kutatap cermin sambil memacakkan tangan dipinggang, berputar membelakangi cermin sambil menengok wajahku..
"cantik... " gumamku.
Tak ada yang salah, aku tidak menyalahkan cita-cita kecilku. bagiku, cita-cita itu adalah harapan baik yang aku dambakan untuk diriku.. bahwa aku ingin menjadi wanita indah selayaknya ratu.
Sayang nya, aku tak pernah lagi berusaha tampil cantik setelah itu. Karena, diriku kehilangan role untuk tampil cantik.
Ibuku tidak bisa memperlakukanku selayaknya anak perempuan. baginya, perempuan cukup untuk tampil sederhana namun menawan bagai bidadari.
"tidak, bagaimana mungkin kata cantik itu ada tanpa usaha? cantik itu adalah aura" hatiku bersuara.
lalu, usaha apa yang harus aku lakukan? aku lelah mencari dan mempelajari semua sendirian!
aku bersyukur sekali saat ini bisa menjadi cantik, bebas ber make-up tanpa embel² "kemayu" itu.
Comments
Post a Comment
Tolong bicaranya yang sopan, jangan nyepam!!! (; ・`ω・´)