Posts

Showing posts from August, 2025

Gelombang Demonstrasi Agustus 2025

Matahari belum tinggi di langit Jakarta ketika ribuan orang berbaris di depan gedung DPR pada 29 Agustus 2025. Suara klakson ojek online bercampur dengan teriakan mahasiswa, poster berwarna hitam putih berkibar di udara panas. “Tunjangan lima puluh juta? Rakyat makan apa?” seru seseorang dari atas pagar besi. Di jalanan, asap ban terbakar naik, menggantung di udara seperti kabut tipis yang pekat oleh amarah. Di tengah kerumunan itu, nama seorang anak muda, Affan Kurniawan, akan segera tercatat dalam sejarah. Ia hanya seorang pengemudi ojek online, namun hidupnya berakhir di bawah roda kendaraan taktis Brimob. Tubuhnya yang ringkih dibandingkan mesin baja itu menjadi simbol: rakyat kecil ditindas oleh kekuasaan yang terlalu besar. Kabar kematiannya menyebar seperti api di padang ilalang, menjalar ke setiap kota, setiap kampus, setiap jalan raya tempat rakyat merasa dipinggirkan.

Moral Hazard? Ternyata Nyata wujudnya

Gua pernah ngerasain shock yang mirip waktu liat dunia pemerintahan dari dekat. Di atas kertas, semuanya keliatan rapi, ada undang-undang, ada aturan main, ada janji transparansi. Dari luar kelihatan serius banget, kayak nggak ada celah buat ngelakuin pelanggaran. Tapi pas ngikutin lebih dalem, ternyata beda cerita. Misalnya soal proyek anggaran. Aturan bilang duit harus dipakai sesuai kebutuhan rakyat, tapi prakteknya sering ada “mark up” atau proyek fiktif. Yang lebih bikin heran, ketika ketahuan, hukumannya nggak sebanding atau malah kasusnya menguap entah ke mana. Nah, kondisi ini bikin pejabat lain mikir, “oh ternyata aman ya, toh kalau ketahuan paling teguran doang atau bisa diselesaikan di belakang layar.” Dari situ keliatan jelas banget rantai sebab-akibat moral hazard. Aturan yang nggak ditegakkan bikin orang makin berani nyoba. Sekali berhasil lolos, mereka ulang lagi. Lama-lama, perilaku yang salah itu malah jadi budaya tak kasat mata di birokrasi. Yang jujur malah dibilang ...

Dari Frugal Hypocrisy ke Financial Trauma Response

Kenapa Kita Jadi Boros Pas Udah Punya Duit Sendiri? Di banyak keluarga, ada pola klasik yang sering nggak sadar terbentuk, anak dari kecil ditanamkan mindset “hemat itu wajib, boros itu dosa.” Kata-kata seperti; “Jangan jajan sembarangan,” atau “Belajar yang bener biar nanti kerja enak, jangan mikirin barang nggak penting,” jadi semacam mantra sehari-hari. Seolah-olah kondisi ekonomi keluarga itu lagi tipis banget. Tapi anehnya, di balik doktrin ketat ke anak, orang tua masih bisa beli barang-barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan. Dari gadget terbaru, dekorasi rumah estetik, sampai hobi konsumtif yang lebih ke gengsi pribadi. Fenomena kontradiktif ini punya nama keren: frugal hypocrisy. Sederhananya sih ngajarin hemat, tapi perilaku sendiri nggak konsisten. Luka Kecil yang Tertanam Masalahnya, pola ini ninggalin jejak di kepala anak. Mereka tumbuh dengan dua “suara” yang saling bentrok:  Suara hemat: “Kalau belanja yang nggak penting, itu salah. Uang harus dijaga buat mas...