Dari Frugal Hypocrisy ke Financial Trauma Response



Kenapa Kita Jadi Boros Pas Udah Punya Duit Sendiri?


Di banyak keluarga, ada pola klasik yang sering nggak sadar terbentuk, anak dari kecil ditanamkan mindset “hemat itu wajib, boros itu dosa.”
Kata-kata seperti; “Jangan jajan sembarangan,” atau “Belajar yang bener biar nanti kerja enak, jangan mikirin barang nggak penting,” jadi semacam mantra sehari-hari.

Seolah-olah kondisi ekonomi keluarga itu lagi tipis banget. Tapi anehnya, di balik doktrin ketat ke anak, orang tua masih bisa beli barang-barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan. Dari gadget terbaru, dekorasi rumah estetik, sampai hobi konsumtif yang lebih ke gengsi pribadi.

Fenomena kontradiktif ini punya nama keren: frugal hypocrisy.
Sederhananya sih ngajarin hemat, tapi perilaku sendiri nggak konsisten.


Luka Kecil yang Tertanam


Masalahnya, pola ini ninggalin jejak di kepala anak. Mereka tumbuh dengan dua “suara” yang saling bentrok:

 Suara hemat: “Kalau belanja yang nggak penting, itu salah. Uang harus dijaga buat masa depan.”

 Suara haus kepuasan: “Gue pengen sesuatu yang bikin bahagia. Dulu nggak pernah dikasih, sekarang gue bisa beli sendiri.”


Bayangin aja, masa kecil mereka diwarnai rasa insecure finansial. Ada guilt kalau minta sesuatu, karena takut dianggap beban. Tapi di sisi lain, ada banyak “kesenangan kecil” yang nggak pernah tercapai.


Saat Anak Udah Dewasa


Begitu mereka bisa cari uang sendiri, bentrokan itu meledak jadi pola baru: financial trauma response.
Mereka masih ngerasa bersalah setiap kali belanja, tapi dorongan buat “balas dendam” ke masa kecil nggak bisa dibendung.

Hasilnya? Muncul perilaku inner child spending, belanja barang-barang lucu, estetik, atau nostalgic.
Contohnya:

Dulu nggak pernah dibeliin mainan → sekarang jadi kolektor action figure.

Dulu dilarang jajan snack random → sekarang doyan beli makanan limited edition.

Dulu dianggap remeh kalau minta barang lucu → sekarang kalap belanja stationery kawaii.


Ironisnya, walaupun punya uang sendiri, rasa bersalah itu nggak hilang. Jadi ada paradox: overthinking tiap belanja, tapi tetep pengen boros di area yang dulu ditahan.



Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakuin?

Financial trauma response ini bukan sekadar soal uang. Ini tentang luka kecil yang belum selesai. Tentang inner child yang pengen diakui.

Beberapa cara buat lebih sehat ngadepin ini:

Sadari polanya. Kenali kalau dorongan belanja itu sering datang dari “masa kecil yang haus.”

Kasih izin diri sendiri. Boleh kok sesekali belanja buat happy, asal nggak sampai bikin minus.

Balance mindset. Bedain antara kebutuhan emosional dan kebutuhan finansial jangka panjang.

Break the cycle. Kalau nanti jadi orang tua, coba lebih konsisten: support anak buat hemat, tapi juga penuhi kebutuhan emosional kecilnya.


Frugal hypocrisy bikin kita tumbuh dengan luka finansial yang sering nggak kelihatan. Akhirnya, waktu udah bisa pegang duit sendiri, kita jadi nyari kepuasan instan buat nutupin masa lalu.
Dan itu wajar. Itu manusiawi.

Tapi kalau udah bisa nyadar, kita punya pilihan: tetap kejebak di pola yang sama, atau pelan-pelan bikin hubungan baru yang lebih sehat sama uang dan sama diri kita sendiri.

Comments

baca postingan lain juga

gadget dewasa

ARTFUL PALTERING

D-Day when the door was shut tight.

I drifted into sleep, but it felt like I never left consciousness

DAY 1 {Revolutionaly}