Gelombang Demonstrasi Agustus 2025



Matahari belum tinggi di langit Jakarta ketika ribuan orang berbaris di depan gedung DPR pada 29 Agustus 2025. Suara klakson ojek online bercampur dengan teriakan mahasiswa, poster berwarna hitam putih berkibar di udara panas. “Tunjangan lima puluh juta? Rakyat makan apa?” seru seseorang dari atas pagar besi. Di jalanan, asap ban terbakar naik, menggantung di udara seperti kabut tipis yang pekat oleh amarah.

Di tengah kerumunan itu, nama seorang anak muda, Affan Kurniawan, akan segera tercatat dalam sejarah. Ia hanya seorang pengemudi ojek online, namun hidupnya berakhir di bawah roda kendaraan taktis Brimob. Tubuhnya yang ringkih dibandingkan mesin baja itu menjadi simbol: rakyat kecil ditindas oleh kekuasaan yang terlalu besar. Kabar kematiannya menyebar seperti api di padang ilalang, menjalar ke setiap kota, setiap kampus, setiap jalan raya tempat rakyat merasa dipinggirkan.




Jakarta terbakar, halte TransJakarta hancur, gedung DPR dilempari, jalan-jalan macet total. Tapi api kemarahan tak berhenti di ibu kota. Di Surabaya, Gedung Grahadi, lambang kekuasaan Jawa Timur, diserbu massa dan diselimuti api. Makassar lebih getir: Gedung DPRD dilalap kobaran, empat jiwa melayang dalam kepanikan malam itu.

Dan di Yogyakarta, kota yang biasanya jadi simbol keheningan budaya, ribuan mahasiswa berpakaian hitam turun dari Malioboro. Mereka berjalan pelan, tapi suaranya menggema, menuntut keadilan. Di depan DPRD DIY, ban-ban dibakar, dinding dicoret, dan sebuah spanduk besar dipasang: “Pemerintah Tolol.” Dari Malioboro mereka bergerak ke Gedung Agung, lalu ke Titik Nol, mengibarkan tuntutan yang kian lantang; bubarkan kabinet, mundurkan Presiden.

Malam menjelang, dan di depan Mapolda DIY, amarah pecah. Gas air mata ditembakkan, batu dilemparkan, mobil patroli terbakar. Namun di tengah asap, sebuah sosok muncul: Sultan Hamengkubuwono X, dengan pakaian sederhana, turun langsung menenangkan massa. “Saya dukung demokrasi yang damai. Perjuangan kalian juga perjuangan bersama,” ucapnya. Malam itu, delapan demonstran dibebaskan karena Sultan berdiri di hadapan polisi—sebuah adegan yang kelak akan dikenang sebagai wajah damai di tengah kobaran.





Prabowo, Presiden yang baru setahun berkuasa, membatalkan lawatan ke luar negeri. Ia muncul di layar televisi, berjanji mencabut tunjangan DPR dan menyelidiki kematian Affan. Namun janji itu bagai suara kecil di tengah keributan besar. Di pasar keuangan, rupiah merosot, IHSG runtuh, dan investor asing berlari keluar. Sekolah-sekolah diliburkan, kantor-kantor kosong karena pekerja memilih aman di rumah. Mall-mall menutup lebih cepat, lampu kota terasa suram meski listrik tak pernah padam.

Indonesia, untuk sesaat, serupa tubuh besar yang kehabisan tenaga: kepalanya pusing, dadanya sesak, kakinya lemas.



Sejarah mencatat Agustus 2025 bukan hanya sebagai bulan kerusuhan. Ia adalah bulan ketika suara rakyat menemukan bentuknya dalam kobaran api, dentuman gas air mata, dan teriakan di jalan-jalan kota. Ia adalah bulan ketika seorang pengemudi ojek online menjadi martir, ketika mahasiswa mengibarkan idealisme di jalanan, ketika Sultan turun dari istananya untuk bicara dengan rakyat.

Agustus itu mengajarkan: kekuasaan tanpa keadilan hanyalah bangunan rapuh. Dan rakyat, sekali bergerak, bisa mengguncang bahkan fondasi yang tampak paling kokoh.

Comments

baca postingan lain juga

gadget dewasa

ARTFUL PALTERING

D-Day when the door was shut tight.

I drifted into sleep, but it felt like I never left consciousness

DAY 1 {Revolutionaly}