Posts

When Silence Becomes Survival

Image
 Strength They’ll Never Understand i’ve always struggled to open up, not out of pride, but cause i’ve been taught, in the most brutal ways, to be careful. i used to believe if i spoke my truth soft enough, someone would hold it with tenderness. but i’ve watched my own words twisted, mocked, used as weapons by the very people i thought would protect me. that kinda betrayal doesn’t just break your trust, it messes up your whole relationship with vulnerability. you start biting your tongue, even when it burns. you start measuring every word, every emotion, scared the wrong person will carry it away and throw it back at you in pieces. you build walls, not to keep love out, but just to keep yourself safe from the people who once called themselves home. and lately… the hurt came from those i trusted the most. people i laughed with, confided in, built memories with. people who swore they’d never turn their backs, only to vanish when things got heavy. they weren’t just friends, they were c...

Quantum Quotient

Image
KECERDASAN KUANTUM  Kita sudah lama mengenal IQ (Intelligence Quotient) sebagai ukuran kepintaran logis, dan EQ (Emotional Quotient) sebagai ukuran kemampuan mengelola emosi. Tapi ada satu kecerdasan lain yang masih jarang dibahas: Quantum Quotient, atau disingkat QQ. Istilah ini diperkenalkan oleh fisikawan Yohanes Surya untuk menggambarkan cara berpikir manusia yang meniru prinsip dunia kuantum, dunia yang penuh ketidakpastian, probabilitas, dan kemungkinan. Dalam mekanika kuantum, sebuah partikel bisa berada dalam dua keadaan sekaligus sebelum diamati. Konsep ini diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai kemampuan menahan banyak kemungkinan dalam pikiran kita tanpa terburu-buru mengunci satu jawaban. Jadi, kalau IQ cenderung mencari kepastian logis dan EQ berfokus pada keseimbangan emosi, QQ justru melatih kita untuk nyaman hidup dalam ketidakpastian. Contoh sederhananya bisa kita lihat saat memasak. Biasanya resep mengatur langkah jelas: tumis bawang, masukkan cabai,...

Biru, Pink, dan Hijau dalam Gerakan #ResetIndonesia

Image
Tiga Warna Perlawanan: Biru, Pink, dan Hijau dalam Gerakan #ResetIndonesia Sejarah perlawanan rakyat Indonesia kini memasuki babak baru, bukan hanya lewat suara lantang di jalanan, tapi juga melalui simbol warna yang merebak di jagat digital. Dari linimasa X (Twitter), lahirlah tiga warna yang menjadi lambang perlawanan: Resistance Blue, Brave Pink, dan Hero Green. Ketiganya bukan sekadar palet estetik, tapi jejak sejarah, keberanian, dan solidaritas yang tak bisa dipisahkan dari aksi massa beberapa pekan terakhir. Resistance Blue: Biru Perlawanan Segalanya bermula dari “Peringatan Darurat Garuda Biru,” sebuah meme yang menyebar luas di media sosial. Biru tua yang pekat itu kemudian diberi nama Resistance Blue. Ia menjadi penanda gentingnya situasi demokrasi, simbol bahwa rakyat merasa konstitusi tengah dilanggar oleh kekuasaan. Biru di sini bukan damai, tapi tegas, dingin, dan penuh tekad. Biru perlawanan berdiri sebagai antitesis biru muda oligarki, warna yang sering diasosiasikan de...

Gelombang Demonstrasi Agustus 2025

Matahari belum tinggi di langit Jakarta ketika ribuan orang berbaris di depan gedung DPR pada 29 Agustus 2025. Suara klakson ojek online bercampur dengan teriakan mahasiswa, poster berwarna hitam putih berkibar di udara panas. “Tunjangan lima puluh juta? Rakyat makan apa?” seru seseorang dari atas pagar besi. Di jalanan, asap ban terbakar naik, menggantung di udara seperti kabut tipis yang pekat oleh amarah. Di tengah kerumunan itu, nama seorang anak muda, Affan Kurniawan, akan segera tercatat dalam sejarah. Ia hanya seorang pengemudi ojek online, namun hidupnya berakhir di bawah roda kendaraan taktis Brimob. Tubuhnya yang ringkih dibandingkan mesin baja itu menjadi simbol: rakyat kecil ditindas oleh kekuasaan yang terlalu besar. Kabar kematiannya menyebar seperti api di padang ilalang, menjalar ke setiap kota, setiap kampus, setiap jalan raya tempat rakyat merasa dipinggirkan.

Moral Hazard? Ternyata Nyata wujudnya

Gua pernah ngerasain shock yang mirip waktu liat dunia pemerintahan dari dekat. Di atas kertas, semuanya keliatan rapi, ada undang-undang, ada aturan main, ada janji transparansi. Dari luar kelihatan serius banget, kayak nggak ada celah buat ngelakuin pelanggaran. Tapi pas ngikutin lebih dalem, ternyata beda cerita. Misalnya soal proyek anggaran. Aturan bilang duit harus dipakai sesuai kebutuhan rakyat, tapi prakteknya sering ada “mark up” atau proyek fiktif. Yang lebih bikin heran, ketika ketahuan, hukumannya nggak sebanding atau malah kasusnya menguap entah ke mana. Nah, kondisi ini bikin pejabat lain mikir, “oh ternyata aman ya, toh kalau ketahuan paling teguran doang atau bisa diselesaikan di belakang layar.” Dari situ keliatan jelas banget rantai sebab-akibat moral hazard. Aturan yang nggak ditegakkan bikin orang makin berani nyoba. Sekali berhasil lolos, mereka ulang lagi. Lama-lama, perilaku yang salah itu malah jadi budaya tak kasat mata di birokrasi. Yang jujur malah dibilang ...

Dari Frugal Hypocrisy ke Financial Trauma Response

Kenapa Kita Jadi Boros Pas Udah Punya Duit Sendiri? Di banyak keluarga, ada pola klasik yang sering nggak sadar terbentuk, anak dari kecil ditanamkan mindset “hemat itu wajib, boros itu dosa.” Kata-kata seperti; “Jangan jajan sembarangan,” atau “Belajar yang bener biar nanti kerja enak, jangan mikirin barang nggak penting,” jadi semacam mantra sehari-hari. Seolah-olah kondisi ekonomi keluarga itu lagi tipis banget. Tapi anehnya, di balik doktrin ketat ke anak, orang tua masih bisa beli barang-barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan. Dari gadget terbaru, dekorasi rumah estetik, sampai hobi konsumtif yang lebih ke gengsi pribadi. Fenomena kontradiktif ini punya nama keren: frugal hypocrisy. Sederhananya sih ngajarin hemat, tapi perilaku sendiri nggak konsisten. Luka Kecil yang Tertanam Masalahnya, pola ini ninggalin jejak di kepala anak. Mereka tumbuh dengan dua “suara” yang saling bentrok:  Suara hemat: “Kalau belanja yang nggak penting, itu salah. Uang harus dijaga buat mas...

Rock Twice

Image
Gebrakan Baru Twice Belum genap sebulan sejak album Korea terbaru mereka rilis, Twice udah balik lagi ajanih. Kali ini bawa title track buat album Jepang . Mereka bener-bener lagi hustle banget. Lagu barunya yang judulnya “ Enemy ” ngasih warna baru yang cukup beda, rock-rock-an gitu, yang bukan tipikal Twice banget. Emang sih, ini sesuai banget sama tren sekarang. Tapi tetep aja rasanya agak kaget denger suara vokal Twice diiringi band dengan sound berat. Mereka ngebawainnya oke, tapi jujur aja, gua pengin denger materi yang lebih nendang buat debut mereka di genre kayak gini. Bukannya meledak dengan vibe rock yang gahar, Enemy malah kerasa kayak lagu mid-tempo generik yang kebetulan ada gitar distorsi di belakang. Terutama bagian verse-nya, masih kejebak di pola trap beat ketimbang energi rock yang mentah dan lepas. Untungnya pas masuk pre-chorus, suasananya mulai naik lebih dramatis gitu. Tapi begitu nyampe ke bagian chorus… yah, rada anti-klimaks sih. Hook-nya kurang greget da...

RYU KINTARO, BOCIL PERINTIS

Netizen Diminta Respect? Mari kita bahas fenomena bocil 9 tahun bernama Ryu Kintaro, si anak kecil rasa bos start-up yang baru-baru ini viral gara-gara statement,  “Yang paling seru itu justru hidup sebagai perintis. Nggak ada yang nunjukin arah, nggak ada yang ngejamin hasil. Justru itu letak asiknya.” Netizen yang lagi nyicil kuota langsung meledak,   “Bro, umur lo masih pake seragam putih-merah, PR Matematika aja masih pakai contekan, kok udah ngomong soal arah hidup?” Secara track record, Ryu bukan bocah random. Dari kecil udah digas jadi konten kreator, punya bisnis jamu branded lucu-lucu, dan followers segambreng di TikTok sama YouTube. Tapi ya, kalau kita jujur, karir “perintis” ini bukan dimulai dari nol. Modal bukan hasil nabung uang jajan, tapi hasil colongan privilege bokap Christopher Sebastian, CEO perusahaan gede. Jadi agak absurd ketika bocah ini nongol di layar hape sambil nyeruakin filosofi perjuangan. Netizen otomatis on fire, “Perintis dari mana? Perint...

I got this song stuck in my head

Image
Hari ini aku muter lagu Friday I’m in Love dari The Cure. Nggak tahu kenapa, pas denger awalnya kaya langsung bikin otak ku muter semua memori, dari suasana, tempat, aroma, yang pernah aku rasain 12 tahun yang lalu. apalagi pas sampe reff, Padahal liriknya simpel banget. Cuma ngomongin betapa jeleknya hari-hari selain Jumat. Tapi waktu masuk bagian ref, rasanya kayak... lega. Kayak napas pertama setelah nahan sesak seminggu penuh. Aku jadi mikir, mungkin lagu itu relate karena aku juga ngerasa gitu. Hari-hari lain cuma numpang lewat, Senin yang berat, Selasa yang ngebosenin, Rabu yang bikin males, Kamis yang kayak pengisi jeda. Tapi pas Jumat datang, aku ngerasa hidupku ada warnanya dikit. Lucu ya, bisa-bisanya cuma satu hari dalam seminggu yang bikin aku ngerasa hidup. Kadang bukan karena hari itu sendiri, tapi karena sesuatu yang selalu muncul di hari itu. Rutinitas yang beda. Mungkin perasaan yang beda juga. Atau mungkin... karena di hari itu, aku ngerasa lebih dekat sama sesuatu ya...

Debat kok personal?

Ad Hominem: Bukan Debat, Tapi Nyerang Orangnya Debat? Gak masalah. Mau ngeluarin pendapat atau ngebela hujjah yang lo yakini? Sah-sah aja. Tapi kadang, debat bisa jadi toxic kalau udah kelewat batas, apalagi sampe nyerempet ke hal-hal yang gak nyambung sama topiknya. Nah, lo pernah nggak sih debat soal satu hal—misal kebijakan atau opini tertentu—tiba-tiba lawan debat malah nyerang elu sebagai orangnya? Bukan argumen lo yang diserang, tapi lo-nya. Nah itu dia yang dinamain Ad Hominem. Ad hominem tuh kesalahan logika yang basically terjadi pas orang lebih fokus nyerang karakter, latar belakang, atau hal personal dari lawan debat, daripada ngebahas isi argumennya. Jadi kayak ngeles tapi pake nyindir. Secara harfiah, “ad hominem” itu dari bahasa Latin, artinya “terhadap orangnya”. Jadi bener-bener geser dari argumen ke orang yang ngomong. Misal nih, lo lagi bahas soal ekonomi terus ada yang nyeletuk: “Emang lo ngerti apa sih soal ekonomi? Lo bukan ekonom juga kan.” Padahal yang harusnya d...

D-Day when the door was shut tight.

That day, I fell silent, waiting for something uncertain. In this vast world, I somehow felt small and confined. I have so many dreams, so many goals but the world feels distant, out of reach. It’s like a giant wall stands before me, blocking my view, controlling me to stay within the lines. So much so that I feel guilty even for stepping an inch outside of them. My thoughts are forced to stay locked away, buried deep, hidden from sight as if they were never meant to be seen at all.

I drifted into sleep, but it felt like I never left consciousness

Last night, I felt a heaviness of sleep pressing down on me, while a small duty kept me awake — just until midnight. I had to stay up, only for a while. To fight the silence, I turned on my little iPod. My eyes were closed, but it never felt like I had actually fallen asleep. From the corner of my eye, I glanced at the clock on my phone. 1:00 AM passed. Then 2:00 AM. My eyes were shut, but my soul was counting every second. I whispered to my own heart, “I’m tired.” I just wanted to fall into a deep sleep— without feeling anything, without even dreaming.

Analogi Belajar Sendiri

Pernah gak sih lo ngerasa clueless banget waktu mau belajar hal baru, tapi gak ada guru, gak ada temen buat nanya? Udah panik duluan, overthinking, akhirnya malah gak belajar-belajar. Padahal ya, belajar mandiri tuh bisa banget jadi senjata lo buat jadi versi lo yang lebih upgrade. Sumpah. Rahasianya? Simpel: lo cuma butuh rasa penasaran dan niat yang gak setengah-setengah. Belajar sendiri tuh bukan soal hoki atau bakat, tapi soal disiplin dan strategi. Gue biasanya pecah dulu tuh materi gede jadi potongan kecil yang lebih masuk akal. Terus gue tanya ke diri sendiri, “Oke, yang gue belum ngerti apaan nih?” Baru deh cari jawabannya dari buku, YouTube, atau sumber-sumber yang beneran bisa dipercaya (bukan cuma dari TikTok random ya ). Oh ya, menurut Malcolm Knowles (yes, dia seriusan ada dan pinter banget), belajar mandiri itu ngefek karena kita belajar berdasarkan kebutuhan dan pengalaman sendiri. Jadi ya, lo bisa sesuaikan cara belajarnya sesuai gaya lo. Mau lo tipe visual, audio, kine...

KEHANCURAN AI

ya walaupun agak nggak masuk akal sih, tapi aku yakin namanya kemajuan teknologi yang terlalu cepat bisa bikin shock kemunduran, anggap aja AI chat yang awalnya berbahasa lugas dan jelas, mulai rusak dari pengguna sendiri. analoginya sama kaya kemajuan sim sim, chat ai yang mempelopori dunia karakter chat dengan bahasa unik dan jenaka,  jawaban yg awalnya disesuaikan sebagai hiburan mulai memproses semua reply dri penggunanya,yang awalnya dimaksudkan untuk memajukan kosakata justru merusak susunan kata Ai itu sendiri. dari sini aku semakin yakin kalau dunia rusak bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti ini. ketika dibelahan bumi utara berlomba-lomba memajukan teknologi, di belahan Selatan justru berusaha merusak teknologi. kalau orang-orang bisa yakin dunia bakal maju dan di kuasai AI, aku ngga yakin sepenuhnya karena itu tadi penggunaan AI yang overwork bisa merusak kinerja AI sendiri, kemajuan teknologi bagiku merupakan kemunduran dunia yg sebenarnya.

Lossless, FLAC, MP3?

Dinamika "Enjoying" Seni Audio Saat ini pasti lo sering lihat banyak format asing yang bikin kamu bingung bedain nya, baik dari kualitas file dan feel audio sendiri. misal saat lo di-iming imingi headset high quality Lossless gituu  Yap, ini topik yang sering bikin bingung, tapi gue jelasin santai: 1. Lossless itu jenis, FLAC itu format. Lossless = jenis kompresi audio yang nggak buang data. Jadi kualitas suaranya tetap sama persis kayak rekaman aslinya (beda sama MP3 yang lossy, buang-buang detail buat ngecilin ukuran). FLAC = salah satu format file yang pake metode lossless compression. Jadi, FLAC itu bagian dari lossless. 2. Beberapa contoh format lossless audio: FLAC (Free Lossless Audio Codec) – paling populer di luar ekosistem Apple. ALAC (Apple Lossless Audio Codec) – buatan Apple, buat pengguna iTunes/Apple Music. WAV / AIFF – lossless juga, tapi nggak dikompres, jadi ukurannya gede banget. --- Simpelnya gini: > Semua FLAC = Lossless Tapi gak semua Lossless = FLAC ...

NON-FUNGIBLE TOKEN

NFT DI ERA KRIPTO Haiii  gua akhir akhir ini lagi kepo banget soal NFT, walaupun pembahasan ini pernah up banget bbrp tahun lalu pas viral nya ghazali everyday. tapi, gua belum sempet nulis detail ttg iniii NFT (Non-Fungible Token) itu kayak sertifikat digital yang buktiin kepemilikan atas sesuatu yang unik di internet — bisa gambar, musik, item game, tweet, apa aja. Singkatnya: "Non-fungible" = gak bisa ditukar mentah-mentah kayak uang (misal 1 dolar = 1 dolar, tapi 1 NFT ≠ NFT lain). dan si NFT ini pakai teknologi blockchain (biasanya Ethereum), jadi datanya transparan dan gak bisa diubah. lo bisa dapetin di market NFT kaya Opensea Lu bisa beli, jual, koleksi, atau flex doang sih... 🀷 Contoh: Lu beli gambar monyet (Bored Ape), terus lo jadi pemilik sahnya di blockchain. Meskipun orang lain bisa liat atau save gambarnya, cuma lo yang punya "bukti resmi" itu. Tapi… Banyak orang skeptis karena bisa overpriced, penuh spekulan, dan sempat jadi ajang scam. Sekarang hyp...

into the next me

what if i succeed? what if i'm braver and stronger than i realize? what if i do have it takes? what if my path is UNIQUE and i don't need to compare myself to anyone? what if someone out there desperately needs exactly what i am creating ? what if there are enough people who DO care? what if being true to my self and following my heart is the only justification i need?  what if i dont need to prove anything to anyone? what if i can't fail? what if every step i take is added to my experience and growth?  what if it's never too late and NOW is the right time for me?  '' i want to illustrate a picture book!!" what if i have so much potential but i will never find out because i never tried? RIP the one who never tried!!

Kenapa Peta Amerika Bentuknya Rapi? πŸ—Ί️πŸ‡ΊπŸ‡Έ✨

Kenapa Peta Amerika Bentuknya Rapi? πŸ—Ί️πŸ‡ΊπŸ‡Έ✨ Kalau lihat peta negara bagian di Amerika Serikat, terutama bagian barat, banyak yang bentuknya kotak atau garis lurus banget, beda sama di Indonesia yang bentuknya lebih alami. Nah, ini alasannya: 1. Pembagian Berdasarkan Garis Lintang dan Bujur πŸ§­πŸ“  ➤ Amerika bagi wilayahnya bukan karena sungai, gunung, atau batas alami. ➤ Mereka pakai garis imajiner seperti garis bujur (vertikal) dan lintang (horizontal). ➤ Jadi, hasilnya: bentuknya lurus dan simetris. 2. Wilayah Baru Saat Ekspansi Barat πŸŽπŸŒ„ ➤ Ketika Amerika berkembang ke arah barat (abad ke-19), mereka mulai menata tanah kosong. ➤ Pemerintah bikin sistem seperti "grid" atau kotak-kotak buat membagi tanah, lewat Undang-Undang Tanah (Land Ordinance 1785). ➤ Negara bagian kayak Colorado, Utah, Wyoming jadi punya bentuk rapi. 3. Bukan Bentuk Asli Alam 🌍 ➤ Bentuknya rapi karena buatan manusia, bukan karena geografi alami. ➤ Tapi di bagian timur Amerika (yang duluan dijajah), bent...

Hmph!!

Gini amat kehidupan sehabis liburan. kukira bakalan tenang eh ternyata busuk bgt gilsss  yang sabar yah rippp besok tuh aku 20 tahun dan harus disambut dengan ujian musthalah hadits tu gimanaaaa?////"_"  hah? Atqiyaa? BELUM SELESAIIIIII JELEK BANGET SIH TEKS KUUU AKKU NGGA BAKAT APA GIMANA SIH NGGA JELAS SUMPIL APAAN DAH BODO AMATTTTTTTT MOH GUA GUMOH MHOH YEKSSS BESOK JUMAT APA LAGI?!!!! KEK NYA GUA HARUS BIKIN SKENARIO HAPPY YANG BARUK  males banget sumpah kek nya ini malah jadi latian ngetik guaa dah tau gua belum lulus verifikasi skill tapi dipaksa ginian. yah semoga tahun depan gua bisa dapet job dari porto gua jadi editor teks majalah iniii pliss. dunia Indonesia sedang krisis membaca tapi malah disuguhin bacaan yang ngga ada hook nya sam sekaliii kan ngga jelas gitu yah ngapain sih gua sebenernyaa  mau bete dan malas senyum, tapi gua masi bersyukur punya muka. jadi ngga boleh cemberut gituuu

PICKY EATER

suka pilih-pilih makanan? and they calling you a picky eater.  "tapi, bukan kah hidup memang pilihan?" ucap seorang influencer manca negara. "aku mencintai diriku apa adanya, walau aku kurus dan tampak malnutrisi" kira-kira itulah yang rata-rata ia sampaikan beberapa bulan kemudian ia mengambil operasi implantasi lemak dan jutru warganet merasa kecewa dengan sikapnya. aku setuju dengan orang yang kontra pada konten oversexualize body  menurutku itu nggak layak banget untuk diutarakan di media sosial, yang bahkan dengan tujuan love self content.  tapi, aku ngga mau nyenggol apa-apa soal itu. bukan berarti tak peduli dengan skandal yang terlihat busuk, justru aku mau melihat dirinya dari sisi lain. Everyone has complex story, they owned their problem, from easy to complicated problem. aku merasa jika saja pribadinya ada dalam diriku, aku punya alasan kompleks tentang nutrisi yang harusnya aku jaga.  sebagai manusia dengan naluri hasrat memakan santapan lezat nan nikma...